JAKARTA – Dunia akademik Indonesia tengah menghadapi ancaman serius berupa serangan siber dari praktik judi online (judol) yang menargetkan website jurnal ilmiah. Serangan ini tidak hanya merusak reputasi, tetapi juga menyebabkan kerugian akademik yang fatal.
Dampak Serangan yang Kian Ganas
Serangan siber judol ini dilaporkan makin agresif dan terbukti telah menimbulkan kerugian signifikan:
-
Kegagalan Akreditasi: Satu jurnal dilaporkan gagal dalam pengajuan akreditasi ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional) karena peretasan yang terjadi tepat pada hari penutupan pengajuan.
-
Jurnal Q1 Terkena: Satu jurnal berkelas Scopus Q1 (peringkat tertinggi di dunia akademik) dilaporkan terpaksa down dan harus pindah alamat (website) akibat serangan siber ini.
-
Gangguan Kredibilitas: Pembina Asosiasi Relawan dan Pengelola Jurnal PTNU (ARJUNU), Ali Formen, menegaskan bahwa serangan ini dapat mengganggu kredibilitas lembaga dan reputasi ilmiah secara keseluruhan.
Target dan Kerentanan
Serangan judol sering menargetkan situs-situs pendidikan (.ac.id dan .sch.id) karena memiliki SEO yang tinggi di mata Google, sehingga sangat cocok untuk disusupi konten judi agar mudah terdeteksi di hasil pencarian.
Serangan ini banyak memanfaatkan kerentanan pada sistem Open Journal Systems (OJS) yang digunakan oleh banyak pengelola jurnal di Indonesia. Beberapa kerentanan yang ditemukan memungkinkan peretas bertindak sebagai administrator.
Upaya Pencegahan dan Mitigasi
Menanggapi situasi ini, ARJUNU bersama Relawan Jurnal Indonesia (RJI) telah berkolaborasi mengadakan webinar nasional. Tujuannya adalah mengajak seluruh pengelola jurnal ilmiah nasional untuk:
-
Memperketat Perlindungan Digital: Terutama pada sistem OJS.
-
Meningkatkan Kesadaran: Memahami pola serangan judol yang kini makin agresif dan titik-titik kerentanan.
-
Menerapkan Langkah Teknis: Melakukan langkah-langkah pengamanan sistem untuk mencegah penyisipan kode iklan judi atau backdoor yang dapat mengendalikan server.












